Oleh: safarians | 20 April 2014

BUKU HARTA AMANAH SOEKARNO TERBIT

Teman-teman Tercinta, akhirnya buku investigasi jurnalistik saya soal Harta Amanah Soekarno sudah terbit. Launching akan berlangsung pada hari Rabu tanggal 07 Mei 2014 pukul 12.30 Wib hingga selesai bertempat di Kampus Paramadina Jl. Gatot Subroto No.97, Jakarta. Semoga bulan depan bukunya sudah tersedia di seluruh toko buku di Indonesia. Melalui posting ini saya mengundang teman-teman untuk ikut serta dalam acara tersebut. Kita ingin mengabarkan kepada anak bangsa Indonesia, bahwa penggelan sejarah bangsa yang hilang kini telah kita temukan.

20140420-001414.jpg

20140421-145225.jpg

Oleh: safarians | 27 Maret 2014

RUPS PT Timah Tbk; Andaikan Babel Punya Saham

RUPS PT Timah Tbk, Andai Babel Punya Saham

(Artikel ini sudah dimuat pada Harian Bangka Pos edisi Kamis, 27 Maret 2014 10:00 WIB).

Oleh: Safari ANS (Mantan Presidium Babel)

Ada enam pejabat Babel yang menghadiri Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Timah Tbk yang berlangsung di Jakarta 25 Maret 2014. Mereka adalah Gubernur Babel Rustam Effendi, Ketua DPRD Babel Didit Srigusjaya, Walikota Pangkalpinang Irwansyah, Bupati Basel H Jamro, Bupati Bangka Barat Zuhri, dan Bupati Belitung Sahani Saleh. Diberitakan oleh harian ini dengan judul “Saat RUPS PT Timah Tbk, Rustam Duduk Melongo”. Itulah konsekwensi Babel tidak memiliki saham pada BUMN yang mengeruk timah di bumi serumpun sebalai ini. Naif memang, tapi faktanya begitu.
Semula pengamat bursa komoditi, sempat mencemoohkan ide penulis agar pemerintah pusat menghibahkan sedikitnya 14 persen sahamnya kepada Babel. Pengamat itu mengatakan bahwa pemikiran itu salah kaprah. Bagaimana mungkin ada perbedaan pengertian pemerintah pusat dan pemerintahan daerah?
Bagi pelaku pasar modal dan pebisnis umumnya, hanya melihat bahwa yang disebut pemerintah itu ya hanya satu. Mau namanya pemerintahan pusat atau pemerintah daerah, tetapi saja dianggap sebagai pemerintah. Tidak ada dikhotomi dalam pemaknaannya. Nyatanya dalam RUPS PT Timah tersebut di atas menjadi gambaran faktual bahwa dikhotomi itu memang ada.
Kalau memang tidak ada dikhotomi pemerintah pusat dan pemerintah daerah, seharusnya pemerintahan daerah yang dihadiri oleh enam pejabat Babel tadi tentu punya hak suara dalam RUPS, sebab mereka merupakan perwakilan pemerintah dengan penguasaan saham mayoritas sebesar 65 persen terhadap PT Timah.
Jika yang disebut pemerintah pusat juga adalah pemerintah daerah, maka hak suara pemerintah pusat dan pemerintah daerah menyatu dalam hak suara 65 persen saham itu. Mengapa hal ini tidak terjadi? Artinya, memang dikhotomi itu memang nyata dan faktual.
Benar adanya, bahwa pejabat Babel tidak bisa berbuat apa-apa dalam RUPS PT Timah, karena dianggap bukan pemegang saham. Notabene pemerintah pusat dalam RUPS setiap BUMN terwakilkan oleh pejabat Kemeneg BUMN dan pejabat Kementerian terkait (Kemeneg ESDM, misalnya untuk timah). Sedangkan daerah yang menjadi tempat BUMN tersebut beroperasi, selalu “melongo” seperti Gubernur Babel pada setiap RUPS.
Lalu yang menjadi persoalan adalah ketika RUPS sebuah BUMN menjadi titik awal menyusun strategi perusahaan kedepan, maka mensinergikan program perusahaan dengan program pemerintah daerah menjadi persoalan rumit. Padahal kalau pemda memiliki hak suara di dalam RUPS, maka kebijakan perusahaan setahun kedepan dapat dirumuskan bersama agar tidak terjadi tumpang tindih ataupun conflictofinterest (benturan kepentingan).
Pertanyaan berikut adalah, bagaimana cara mendapat saham PT Timah Tbk? Pemikiran yang mendesak saat ini adalah seperti yang diungkapkan oleh Gubernur Babel, dengan membeli saham BUMN tersebut melalui BUMD milik Babel atau melalui fasilitas pemerintahan. Bahkan perseorangan pun bisa, seperti yang dilakukan oleh tokoh Babel Junaidi Mustar.
Untuk menempuh jalan pintas apa yang dipikirkan oleh Gubernur Babel adalah yang paling realistis. Akan tetapi memerlukan investasi puluhan bahkan ratusan milyar rupiah. Namun dengan cara mendesak pemerintah pusat agar diberikan hibah saham 14 persen ke Pemprov Babel adalah sebagai hal yang paling logis, karena masih sesama pemerintah.
Sebab kalau Babel memiliki saham minoritas atau terlalu kecil seperti saham perseorangan di lantai bursa, maka akan menjadi bulan-bulanan dalam RUPS, sebab seperti diungkapkan oleh Dirut PT Timah baru-baru bahwa perusahaan akan menyiapkan maksimal anggaran sebesar Rp 500 milyar untuk buyback (beli saham kembali) apabila para pemegang saham minoritas tidak setuju dengan gagasannya.
Direksi PT Timah sering menjadi representatif terhadap perpanjangan kekuasaan para pemegang saham mayoritas. Jika kebijakan buyback dipergunakan dalam suatu perdebatan serius para pemegang saham, maka mau tidak mau pemilik saham minoritas harus menyetujuinya.
Misalnya, RUPS PT Timah memutuskan untuk memindahkan kantor pusatnya ke Jakarta dengan alasannya efisiensi biaya kerja dan sebagainya, sebab akan mengalami reorientasi bisnis dari tambah timah ke trading timah atau lainnya, maka para pemegang saham minoritas dengan terpaksa harus mengikutinya.
Artinya, bahwa yang berkuasa dalam RUPS adalah para pegang saham mayoritas dalam hal ini pemerintah pusat. Jika Babel membeli saham di lantai bursa, maka nasibnya akan sama dengan para pemegang saham yang lain, hanya hak suara tanpa memiliki kekuatan untuk memutuskan.
Akan tetapi ketika PT Timah masih menempatkan bisnis utamanya di Babel, maka pertimbangan azas kepentingan bisnis, akan menjadi lain, bahwa permintaan pemegang saham Babel harus dipertimbangkan agar tidak mengalami hambatan di lapangan tambang dan perizinan.
Dari asumsi-asumsi di atas, maka langkah Gubernur Babel untuk membeli saham melalui BUMD patut didukung oleh DPRD dan komponen masyarakat Babel, sebagai langkah awal. Bisa saja membalinya melalui lantai bursa, sekedar untuk mencatatkan diri bahwa Babel punya hak suara. Tetapi langkah lebih lanjut adalah Babel harus mendapat saham pemerintah pusat dengan dua cara.
Pertama, Babel mendorong pemerintah pusat agar bersedia menghibahkan 14 persen sahamnya kepada pemerintahan di Babel. Apakah langsung kepada Pemprov Babel, ataukah langsung di bagi habis merata ke seluruh Pemkab dan Pemkot yanga ada di Babel. Hibah ini sebagai konsekwensi bahwa timah sudah mulai habis di wilayah Babel dan sebagai hadiah begitu lamanya timah dikeruk di bumi Babel sejak zaman penjajahan Belanja hingga kini.
Kedua, membeli saham pemerintah pusat sebesar 14 persen sehingga pemerintah pusat tinggal memiliki 51 persen saham di PT Timah Tbk dengan harga aktual pasar atau dengan harga khusus yang dipertimbangkan. Pembayarannya bisa menggunakan anggaran yang sengaja dibuatkan item khusus dalam APBD Babel. Apakah APBD Pemprov Babel sendiri ataukah merupakan gabungan APBD Kabupaten dan Kota yang ada di Babel.
Sumber pembiayaan atau post pembiayaan dapat dikreasikan berdasarkan fasilitas yang ada. Atau dengan menggunakan pembayaran secara cicilan kepada pemerintah pusat.
Jika Babel sudah memiliki saham pada PT Timah Tbk, maka pertanyaan Ketua DPRD Provinsi Babel Didit Srigusjaya yang merasa heran ketika menghadiri RUPS tersebut, kok dalam RPUS itu tidak sedikitpun menyinggung soal Babel, tidak akan terjadi lagi. Semoga.

Revolusi industri di Eropa dan Amerika yang menemukan mesin motor penggerak dengan berbagai bahan bakar, bukan lagi sarana dan wahana kehidupan masa depan. Bahan bakar fosil, dan lainnya yang bersumber material dari perkebunan, pun segera akan berakhir. Kedepan, manusia akan hidup dalam revolusi baru, revolusi elektromagnetik. Sebuah revolusi teknologi elektronik yang kemudian menjadi teknologi yang akan menggantikan mesin motor berbahan bakar yang selama ini terdapat pada mobil, sepeda motor, baik berbahan bakar minyak, matahari maupun listrik.

Teknologi-teknologi mesin, telah menyebabkan hancurnya habitat kehidupan dan merusak keseimbangan alam yang kemudian menyebabkan perubahan iklim secara ekstrim yang bisa mengancam kehidupan masa depan ummat manusia. Planet bumi akan semakin panas ketika musim panas, dan akan menjadi sangat dingin ketika musim dingin. Bahkan akibat hancurnya keseimbangan alam tadi, telah menyebabkan bencana di sana-sini.

(nanti akan berlanjut………)

Mungkin bangsa Indonesia sepakat bahwa masing-masing anak bangsa begitu dilahirkan memiliki amanahnya sendiri-sendiri sesuai dengan terah dan talentanya masing-masing. Jadi tak heran apabila belakangan tumbuh dan bermunculan komunitas dengan format Harta Amanah di berbagai daerah di Indonesia. Bahkan banyak diantaranya berkolerasi dengan jaringan mereka yang ada di luar negeri. Seperti komunitas lainnya, selalu ada pengurus atau pimpinan tertinggi yang mereka segani dan mereka patuhi apapun fatwa dan pendapatnya. Malah ada yang bersedia mati untuk membela kebenaran sang pemimpin mereka. Namun tak sedikit pula komunitas tersebut hanya sekedar tameng untuk menjaring uang dari sponsor atau dari anggota yang mereka jaring.

Ada yang berbasis ajaran keagamaan dengan melakukan serangkaian pengajian dengan lafaz-lafaz ilahiyah yang mereka pahami secara harfiah dan tafsiran sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Salah atau benar ajaran materi pengajian yang disampaikan oleh sang pemimpin komunitas, bukanklah hal yang harus dibantah atau ditanyakan. Sebab kebanyakan anggota komunitas Harta Amanah yang berbasis pengajian agama ini, lebih bersifat doktrin dan menggunakan model MLM (multi level marketing). Jenis komunitas seperti ini agak mengkhwatirkan karena ajarannya mampu membuat tekad (taklid buta) terhadap sebuah pandangan. Misalnya, sang pemimpin mereka memberikan statement kepada anggotanya, bahwa dirinyalah Soekarno yang sebenarnya. Kini sang pemimpin sebagai Soekarno atau putra Soekarno yang disembunyikan untuk mengemban Harta Amanah. Sang pemimpin berupaya mengikuti atribut-atribut yang menjadi ikon Soekarno seperti pakaiannya, peci, suara, gaya pidatonya, dan sebagainya. Dengan kekuatan dan keterampilan olah ilmu psikologi (mirip hipnotesia), sang pemimpin mampu membuat para anggota menjadi tunduk dan patuh tanpa pernah membantah.

Model komunitas lainnya adalah berpola dalam bentuk patungan usaha. Bahwa komunitas ini diumumkan sebagai lembaga kepercayaan satu-satunya oleh UBS, Soekarno, Soewarno, atau perorangan lainnya termasuk kelembagaan. Mereka menjanjikan ketersediaan kolateral atau jaminan kredit bank dalam jumlah besar yang berasal dari top bank dunia. Jaminan bisa berupa SBLC (Stand By Letter of Credit), Bank garansi, Bank Note, Bank Draft, atau lainnya. Bank-bank ternama pun di deretkan sebagai perlambang bahwa komunitas ini dianggap bonafide. Sepintas memang iya. Karena dalam tahap awalnya akan selalu meminta agar klien mereka menyediakan fasilitas kredit (credit line) yang ditandai dengan terbitnya Bank Confirmation Letter (BCL) bahwa memang credit line nya sudah disetujui oleh bank. Ada lagi yang menyediakan MT103 two way (dua arah) sebagai jaminan asalkan pihak bank befeficiary (penerima) dapat menyiapkan ICBPO (Irravocable Confirm Bank Payment Order) atau semacam jaminan dari bank penerima, begitu komunitas ini melakukan swift MT799 (pre advice) kepada bank penerima (beneficiary). Lalu ketika proses berjalan, klien diminta untuk menanggung biaya swift, notaris, dan sebagainya.

Komunitas Harta Amanah lainnya, adalah yang berbasis klenik, mistik, dan percaya pada permainan alam ghaib. Jenis komunitas Harta Amanah ini percaya bahwa Indonesia memiliki gudang emas dan gudang logam mulia mahal lainnya seperti platinum, batu permata, dan sebagainya yang tersebar di berbagai wilayah. Gudang-gudang tersebut dijaga oleh Eyang-eyang yang memang sudah teruji sakti mandraguna. Hebatnya keyakinan mereka atas kesaktian sang Eyang, sehingga satelit secanggih apapun milik manusia termasuk Amerika Serikat, tak akan mampu mendeteksinya. Bahkan mereka juga percaya bahwa harta-harta mahal dalam gudang bisa mereka pindah-pindahkan kemana saja dan kapan saja mereka mau. Untuk itu, komunitas jenis ini biasanya banyak melakukan upacara-upacara yang berhubungan dengan mistik dengan membakar menyan dan tabur serta mandi bunga. Komunitas Harta Amanah ini banyak hadir dengan menghadirkan contoh-contoh batangan emas, uang kertas dari berbagai negara, dan sebagainya. Hanya saja begitu diajak untuk bertransaksi mereka selalu minta uang untuk melakukan sesajen baik berupa sapi, kerbau, dan atau sesajen lainnya. Setelah itu, baru sang klien dapat melihat gudang emas seperti yang mereka janjikan.

Walaupun berbeda-beda karakter, komunitas Harta Amanah ini memiliki kesamaan dalam aspek komunikasi yang mereka bangun. Ciri khas mereka bersifat low contect. Mereka selalu mengatakan bahwa AS dan dunia memiliki utang sama Indonesia yang sudah jatuh tempo. Mereka selalu mengatakan bahwa merekalah penerus Harta Amanah yang diberikan mandat oleh Soekarno. Lalu ada juga yang mengatakan bahwa Harta Amanah sudah ada sejak sebelum Soekarno lahir. Jadi Harta Amanah tidak tergantung kepada Soekarno. Hal lain yang sering mereka sebut, bahwa pemimpin merekalah yang memiliki tanda-tanda khusus seperti yang tulis dalam artikel lain dalam website ini. Ciri-ciri khusus mereka garis bawahi dan mereka tonjolkan. Tetapi hanya mereka yang paham apa tanda-tanda khusus yang mereka maksudkan. Soal tanda khusus ini, yang paling ditonjolkan sebagai penegasan lambang dan penguatan sang tokoh pemimpin komunitas.

Kehebatan komunikasi komunitas Harta Amanah, hampir sama dengan ombrolan di warung kopi yang biasa nongrong di berbagai daerah. Dimana obrolan mereka berbicara soal bisnis yang menurut mereka adalah logis. Mereka bicara dan menjual percakapan apa saja yang mereka mau. Kalau perlu emas di puncak Tugu Monas pun mereka sertifikatkan sebagai bisnis yang mereka bicarakan. Semuanya menjadi terang benderang dalam obrolan warung kopi yang kemudian diterjemahkan dan membuat doktrinasi dengan berbagai dasar dan argumentasi. Masyarakat Indonesia yang masih banyak hidup di bawah garis kemiskinan, menjadi sasaran empuk jenis komunitas begini. Impian menjadikan negara Insonesia kaya raya dan menjadi negara super power dengan kekayaan melimpah terekam dengan baik dan tajam dalam memori mereka, sehingga mendukung semangat militansi anggota.

Komunikasi intent dengan argumentasi yang logis serta bumbu magis yang mereka miliki, komunitas Harta Amanah umumnya berhasil meyakinkan para birokrat. Banyak diantaranya yang sudah menandatangani perjanjian kerjasama dengan lembaga dan institusi pemerintahan dengan dalil untuk kemakmuran rakyat. Sebab komunitas Harta Amanah tidak akan pernah mengatakan bahwa upaya mereka untuk kepentingan dirinya dan kelompoknya. Mereka selalu mengatakan untuk kepentingan kemakmuran rakyat dan bangsa Indonesia.

Jika gagal dalam transaksi? Ada argumentasi yang tidak bisa dibantah oleh klien yang berhubungan dengan Harta Amanah ketika gagal. Selama ini alasan yang diberikan selalu dengan alasan; maaf tidak bisa cair karena ada diantara tim kerja yang tidak jujur atau berkhianat atau berhati busuk. Sebab syarat cairnya Harta Amanah adalah hati bersih, jujur, amanah, dan siap mati untuk membela kebenaran. Sebuah sikap dan prinsip yang sudah langka sekarang ini. Malah ada diantaranya komunitas mengatakan bahwa Harta Amanah hanya bisa cair apabila para pemimpinnya tidak ada lagi yang bermental korupsi. Mulai dari Presiden sampai ke Lurah, harus bersih dan jujur, dan hidupnya hanya untuk rakyat. Nah posisi itulah Harta Amanah bisa cair. Apa iya semuanya bisa jujur dan bersih? Sebuah pekerjaan besar dan penantian yang sabar. Tetapi soal Harta Amanah ada atau tidak, sudah dibahas dalam artikel terdahulu. Argumentasinya cukup kuat untuk mengatakan itu, memang ada. Salam perjuangan (safari_ans@yahoo.com).

W

BANGSA AMERIKA DAN INDONESIA SEBENARNYA DAPAT MERAJUT KEMBALI NILAI-NILAI YANG TERKANDUNG DALAM GREEN HILTON MEMORIAL AGREEMENT. JUSTRU BUKAN SALING HAPUS JEJAK SEJARAH, SALING KLAIM, DAN SALING SEMBUNYI. MANUSIA SEKARANG SUDAH MODERN MEMBUTUKAN KETERBUKAAN. SEBAB KETERTUTUPAN SERING MENJADI LAHAN KORUPSI DAN PERAMPOKAN ASET SECARA SISTEMTIS DAN MASIF. KEDUA PEMIMPIN BANGSA AMERIKA DAN INDONESIA HARUS BEKERJASAMA MEMBANGUN KEDUA BANGSA INI. JIKA TIDAK BEKERJASAMA, MAKA KEDUA BANGSA INI AKAN TERPURUK DAN HANCUR OLEH SEJARAHNYA SENDIRI, DAN BANGSA LAIN DAPAT MERAIH KEUNTUNGAN DI BALIK SEJARAH YANG DIBUAT KEDUA BANGSA BESAR INI. DAN SUDAH MULAI TERBUKTI SECARA EKONOMI DAN FINANSIAL.

RAKYAT KEDUA BANGSA INI JANGAN DIBIARKAN TERSESAT DALAM SEJARAH BANGSANYA SENDIRI KARENA BERDAMPAK NEGATIF BAGI KEHIDUPAN MEREKA. LIHATLAH DI BERBAGAI DAERAH DI INDONESIA TELAH TERJADI MODUS PENIPUAN YANG BERKEDOK ATAS HARAPAN AKAN CAIRNYA HARTA AMANAH YANG AKAN DIBAGIKAN GRATIS KEPADA KELUARGA MISKIN. PULUHAN BAHKAN RATUSAN ORANG MENGAKU BAHWA DIRINYA LAH YANG TELAH MENDAPAT MANDAT DARI SOEKARNO DAN TURUNAN MANDATNYA. ATAU, BANYAK YANG MENGAKU BAHWA DIRINYALAH YANG HANYA BERHAK DAN DAPAT MENCAIRKAN HARTA AMANAH ITU. DAN BANYAK PENYIMPANGAN LAINNYA YANG MEMBUAT BANYAK ORANG SUSAH DAN SEMAKIN MISKIN AKIBAT KESALAHAN MEMAHAMI SEJARAH BANGSANYA SENDIRI. KONDISI INI TIDAK BISA DIBIARKAN, PERAN MEDIA MASSA DITUNTUT UNTUK MEMPERBAIKI KONDISI MASYARAKAT YANG DEMAM HARTA AMANAH. SEJARAH HARUS DILURUSKAN, MAKNA GREEN HILTON MEMORIAL AGREEEMENT YANG SEBENARNYA HARUS LEBIH DIKEMUKAKAN BERDASARKAN FAKTA DAN DATA PRIMIER YANG DIPAHAMI SECARA LOGIS KEILMUAN, BUKAN SECARA MISTIK. SALAM.

20131114-100801.jpg

20131110-101721.jpg

20131110-101910.jpg

20131113-192149.jpg

20131110-112613.jpg

20131110-112626.jpg

Oleh: safarians | 9 Juli 2013

Harta Amanah Menjadi “Hantu” Masyarakat

Setelah penulis melakukan riset kecil-kecilan puluhan tahun hingga kini, terasa ingin menyimpulkan bahwa apa yang disebut “harta amanah” atau “harta kerajaan” telah menjadi “hantu” bagi kebanyakan masyarakat tidak hanya di Indonesia tetapi juga belahan masyarakat dunia lainnya. Berbagai cara yang dilakukan oleh orang yang mengaku dirinya terah Soekarno sampai yang mengaku dirinya keturunan raja-raja Nusantara tempo dulu. Polanya pun beragam. Ada yang mengadakan arisan nasional dengan cara menyetor dana keanggotaan dengan janji akan diberikan jatah pencairan apa yang disebutnya harta amanah itu. Ada pula dengan cara upacara klenik dengan cara membai’at anggotanya dengan cara mandi kembang. Juga ada yang mengadakan dengan cara kelompok pengajian rutin dengan ceramah agama yang bersifat dogmatis.

Yang mengaku dirinya Soekarno pun tak kalah hebatnya. Mulai dari cara bicara sampai gaya dan pakaian serta atribut presiden pertama itu ikut disematkan pada pakaiannya. Setidaknya, di Sukabumi saja ada dua pria paro baya yang mengaku dirinya Soekarno. Yang satu seorang nelayan berbadan pendek dari ukuran Soekarno yang sebenarnya. Ketika penulis tanya, kenapa tubuhnya agak pendek, dia bercerita bahwa tubuhnya telah dimakan usia, sehingga menjadi agak pendek. Yang satu lagi, masih di Sukabumi, mengapa muka Anda tak mirip Soekarno dan kulit Anda amat hitam. Pria tua itu menjawab semasa rezim Soeharto dirinya diracun, dan hampir mati. Untuk menghilangkan racun itu, dia harus berendam di air luat setiap hari. Berjemur di laut inilah membuat kulitnya hitam.

Berbeda dengan pengakuan diri sebagai Soekarno di Sukabumi, di Jawa ada seorang kakek berusia renta. Ia mengaku sebagai keturunan kerajaan Mataram yang terakhir. Ia memiliki dokumen bank yang menurutnya asli dari keturunannya. Ketika ia diajak untuk proses, orang tua Mataram ini terdampar di Kawasan Sentul Jawa Barat. Ia menderita bagaikan “pengemis” di pinggiran jalan. Seorang pengusaha batubara yang pernah menjadi artis merawatnya di rumahnya di kawasan Timur Bekasi. Oleh pengusaha itu pun kakek tua ini di bawa ke RCM Cipto Mangunkusumo sekedar untuk mengecek giginya, apakah betul kakek itu sudah berusia di atas 100 tahun. Pihak rumah sakit membenarkannya. Lalu penulis pun diundang untuk bertatap muka dengan “Raja Keturunan Mataram” yang terakhir itu. Ketika terjadi dialog dengan penulis, akhirnya dia mengaku bahwa ia hanya seorang tua yang gajinya belum pernah dibayar saat kerja pada perusahaan Belanda dan Jepang. Tak lebih tak kurang. Ketika penulis minta bercerita soal kerajaan Mataram, kakek itu tak banyak tau.

Masih di Jawa, ada seorang pemuda yang masih sehat dan gagah menelpon penulis, bahwa dirinyalah yang berhak mencairkan tentang harta amanah itu. Pun penulis ajak ngobrol panjang lebar sampai penulis jemput di rumah adiknya di Bandung untuk jalan-jalan bersama penulis ke Jakarta. Setelah menginap semalam di rumah penulis, terbukalah betapa ia memahami betul cerita soal harta amanah menurut versinya. Tetapi pemuda ini mengaitkan cerita antara Soekarno dan Soeharto. Lengkap dengan segala doa-doanya agar terah Soeharto dan teras Soekarno bisa masuk ke seseorang melalui fasilitas yang dia sebut “raga sukmo”. Ia memiliki sebuah batu permata berlian berwarna putih dan merah yang menurutnya dengan batu ini ia bisa membuka seluruh gudang harta nenek moyang Indonesia setidaknya untuk wilayah Jawa.

Bahkan di Metropolitan Jakarta pun tak kalah ramainya. Seorang pemuda gagah berani yang sangat luas pergaulannya dengan keluarga Cendana. Ia mengaku keturunan kerajaan wilayah Sumatera Barat. Ia pergi kemana saja selalu dikawal ketat. Memiliki dokumen bank yang nilainya fantastis. Seorang pensiunan Cakrabiarawa malah mendatangi penulis sambil memperlihatkan dokumen lusuh atas nama Soekarno dan atas nama presiden pertama dan pendiri Taiwan. Bahkan salah satu dokumen itu penulis sempat serahkan ke Burhanuddin Abdullah ketika masih menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia tahun 2004. Penulis menyerahkannya ketika beliau penulis undang sebagai tamu talkshow di Lativi (kini TVOne), kala penulis masih bekerja di televisi milik Abdul Latief itu. Pak Burhanuddin Abdullah malam itu datang bersama istrinya. Penulis bilang, jika benar dokumen ini, tolong diproses. Tapi sayang hingga kini tak ada kabar lagi.

Satu-satunya kabar adalah dari teman penulis yang sempat bekerja sebagai staf ahli Bambang Soedibyo ketika masih menjabat sebagai Menteri Keuangan Republik Indonesia. Konon ia ditugaskan oleh Menkeu itu untuk memproses dokumen yang mereka miliki yang nilainya cukup untuk membayar hutang negara. Tapi gagal, dan dokumen itu dihancurkan agar tidak disalahgunakan oleh pihak lain. Dua tahun silam, penulis pun sempat diundang Sekretariat Negara di Istana Negara untuk membahas sejauh mana keaslian sebuah dokumen anak bangsa. Dokumen itu diterbitkan oleh Bank of Japan yang dipegang oleh seorang wanita paro baya yang katanya sebagai anak Soekarno. Sayangnya, melihat sandi-sandi yang ada, penulis katakan bahwa dokumen itu sulit dipercaya. Hebatnya, Setneg adalah lembaga pemerintah yang banyak disurati oleh orang-orang yang mengaku pewaris harta kerajaan atau pun harta Bung Karno. Umumnya minta diteruskan ke Presiden SBY agar diproses untuk kesejahteraan bangsa Indonesia. Sepintas melihat tampilan dokumen dan orang yang menyerahkan bisa jadi semua pihak akan pecaya, bahwa dokumen itu benar adanya. Dan itu membuat para pihak “tergila-gila” untuk ikut serta bahkan mau berkorban harta dan waktu untuk ikut proses pencairannya.

Di luar negeri pun punya cerita yang sama gilanya. Ketika penulis berada di Hong Kong pada 2007, seorang kakek minta bertemu penulis sembari membawa setumpuk lembaran dokumen tua atas nama presiden pertama Indonesia dan pemimpin besar revolusi China. Ia meyakini betul bahwa hubungan Soekarno dan Mao Zedong kala itu memang berkait dengan dokumen yang ia pegang. Bundelan dokumen yang nilainya mengerikan itu diserahkan kepada penulis untuk dipelajari. Seminggu kemudian dokumen itu penulis kembalikan dengan beberapa catatan. Intinya, bahwa dokumen yang ia simpan itu tidak benar. Tak sampai seminggu kemudian, penulis diberi kabar bahwa kakek itu telah meninggal dunia.

Pengalaman dokumen di luar negeri, hasil riset penulis yang agak mendekati kebenaran dan sejarahnya (fund histrorical) rada benar adalah sebuah dokumen milik seorang pengusaha Manado, yang keluarganya pada era Soekarno adalah penjual kopra di luar negeri. Menurut hasil penelitian penulis, dana yang berjumlah sekitar USD 10 milyar itu adalah dana yang tadinya akan digunakan untuk membeli senjata ke Amerika Serikat. Sayang, dana itu kemudian disalahgunakan oleh pasukan militer yang hianat sehingga kemudian dana itu dihimpun oleh Federal Reserve (FED) atas nama anak Manado itu. Boleh jadi dana itulah yang kemudian memodali RMS hingga kini. Sebab, pihak-pihak yang terlibat waktu itu bermarkas di Bangkok. Cerita ini ada kaitannya dengan ketersinggungan Amerika Serikat atas pernyataan Soekarno soal makar di Sumatera bahwa para makar itu didapati menggunakan senjata api buatan negeri Paman Sam itu. Dan sejak itu, hubungan Jakarta dan Washinton agak macet, dan jual beli senjata pun dihentikan. Jika Pemerintah Indonesia pintar, maka dana ini pun bisa dikembalikan ke APBN, karena memang dana itu bersumber dari keuangan negara kala itu.

Di Malaysia pun yang masih rumpun Indonesia (rumpun Melayu), tak kalah hebohnya. Banyak warga negara Malaysia baik secara perseorangan maupun secara organisasi memproklamirkan diri sebagai pihak yang punya hak untuk mencairkan harta Bung Karno atau harta kerajaan. Karena sejarah kedua bangsa melekat sejak kerajaan Sriwijaya dulu. Kedua bangsa hanya dipisahkan oleh Inggris dan Belanda saja. Andaikan kedua kaum penjajah itu tidak ada, mungkin kedua bangsa ini masih menjadi satu bangsa, ialah Bangsa Nusantara. Konsep Nusantara ini pun masih bergema di Malaysia dan Brunei Darussalam. Bahkan di negeri Sultan Bolkiah itu ada restoran bernama “Restoran Nusantara”.

Pada era modern dan era reformasi sekarang pun, deman harta amanah, harta kerajaan atau harta Bung Karno ini tidak juga reda. Malah semakin gila dan berani dengan cara mendeklarasikan dirinya sebagai “pewaris syah”. Agar orang percaya, mereka gunakan argumentasi agama, budaya, kajian ekonomi, perbankan dan bahkan kajian klenik sekalipun. Ilmu hipnotis pun juga mereka gunakan agar pengikut mereka tetap setia walaupun apa yang diucapkannya tidak pernah berhasil. Ia pandai memberikan alasan yang masuk akal bagi pengikutnya. Ia pandai berceramah tentang apa saja, tetapi pengetahuan menurut versi mereka tentunya. Sebab bila dikaji menurut teori akademik, maka semuanya hanyalah othopia dan hayalan seorang imajiner. Surat Keputusan Presiden (masih diragukan kebenarannya) tentang pencairan harta kerajaan pun difotocopy dan dibagikan ke berbagai pihak seakan memang harta itu akan cair melalui tangan sang legendaris yang mereka puja-puji bak seorang seorang putri dan raja.

Mereka bukan saja menyebut dirinya raja di negeri ini, tetapi mereka menyebut dirinya sebagai penguasa planet ini. Semuanya punya mereka. Anehnya, para pengikut yang terdiri dari para sarjana dari berbagai disiplin itu, tak pernah protes. Sang legendaris hebat, karena bisa menghancur teori akademik, sehingga siapa saja yang datang akan menghadapi gempuran dalam otaknya antara percaya dengan tidak percaya. Dengan dalih, bahwa manusia itu amat terbatas kamar ilmunya, maka akademisi alam almalakut memliki teori lain, ialah teori ketidakmungkinan menjadi mungkin. Alhasil, analisa akademik dan teori ilmu sekolah hancur luluh tak berguna. Kala itulah sang pengikut setia mereka kemudian mengiyakan apapun yang diucapkan oleh sang pengaku pewaris sebagai “titah” dari alam malakut yang kemudian dibungkus sebagai firman Tuhan. Allahuakbar.

……(maaf nanti dilanjutkan, penulis sedang kedatangan tamu).

Rabu sore itu tanggal 22 Mei 2013 penuh isak tangis haru dan kangen setelah puluhan tahun bahkan berabad-abad tak pernah bertemu lagi. Mereka memang manusia biasa tapi hari itu berbeda. Masing-masing memerankan sesuai dengan terunannya masing-masing. Yang beraliran putih maupun hitam sore itu suka atau tidak suka harus bertemu. Mereka berdatangan dari pelbagai tempat sesuai dengan kesaktiannya masing-masing. Yang beraliran hitam, menangis tersedu meminta ampun kepada Sang Ibu dan mengharap ampunan dari Sang Pencipta. Ia berjanji di depan para tetua dan para Waliyullah, bahwa ia tidak akan mengulanginya lagi. Para penjaga gudang harta amanah pun unjuk diri sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Di punghujung pertemuan itu, Paduka Yang Mulia, demikian mereka menyebutnya, hadir dengan suara lantang. Ia mengabarkan bahwa inilah saat yang paling dinantikan. Konon, Ia tidak hanya diharapkan oleh bangsa Indonesia tetapi juga manusia yang ada di planet ini. Ia menyesali, bila melihat kaadaan bangsa yang ia dulu pimpin, kini menjadi bangsa yang kerdil, dan bermental buruk. Yang ada di otak para pejabat negaranya hanyalah bagaimana “merampok” harta negara dan rakyat. Andaikan ia bisa membagikan harta amanah ini begitu saja, maka ia ingin membagikannya secara langsung kepada rakyat miskin, korban kerakusan penguasanya sendiri. Ia berpidato seperti layaknya ia masih menjadi seorang pemimpin revolusi ketika itu. Audiencenya kali ini berbeda, mereka bukan rakyat biasa, tetapi para pemuka dan tokoh besar di zamannya masing-masing.

Bung Karno duduk bersebelahan dengan Nyai Gunung Salak dan Kanjeng Ratu Pantai Selatan. Nyai sakti marah. Ia marah karena banyak harta miliknya telah dicuri oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Nyai marah kepada pejabat Indonesia sekarang yang serba korup. Inilah pertanda bahwa bangsa ini telah hancur. Jadi pemimpin itu menurutnya harus ikhlas, beribadah juga harus ikhlas. Bahkan kunci ibadah kepada Tuhan itu adalah ikhlas, bukan mengharapkan imbalan. Nah, ikhlas itu yang sudah tidak ada. Bagaimana Tuhan nggak marah, kalau ibadah saja tidak ikhlas.

Nyai Gunung Salak dan Ki Djoko Tingkir alias Panglima Samber Nyawa adalah yang paling ditakuti sore itu. Satu demi satu tubuh dan hati peserta sidang “Parodi dan Realitas Makna Konsepsi Manusia” dilihat oleh Nyai dan Ki Djoko. Yang kotor dipersihkan, yang penyakitan disembuhkan. Bahkan yang tubuhnya menjadi sarang setan, hari itu dicuci bersih. Pokoknya peserta sidang tidak boleh ada lagi yang berpanyakitan dan berhati kotor. Bahkan bos para kurawa (mahkluk jahat) pun sore itu disikat habis. Nyi Blorong yang selama ini mencemarkan nama baik Ratu Partai Selatan, hari itu datang bersimpuh dan minta maaf kepada ibu kandungnya (Ibu Ratu). Bahkan ia diambil sumpah oleh Nyai Gunung Salak di depan Wali Songo, untuk tidak mengulangi perbuatan terkutuknya selama ini. Bahkan Nyai Gunung Salak dan Pangeran Samber Nyawa semula diminta untuk mengakhiri hidupnya, karena Sang Ibu tidak mau memaafkannya. Tetapi, aliran putih tidak menganut asas itu. Ia hanya di kerangkeng dan diambil kesaktiannya. Anak Ratu ini dituding penyebab raibnya harta nenek moyang selama ini, dan jadi penghambat jalannya kebajikan di bumi persada. Bahkan ia menjadi penebar teror di mana-mana. Pokoknya sidang hari itu adalah pertemuan luar biasa yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Di penghujung rapat luar biasa itu, Nabi Adam dan Siti Hawa hadir melalui frekwensi yang luar biasa. Peserta sidang sungkem pada Ibu dari segala Ibu manusia ini. Derai air mata pun tak henti. Semua peserta yang hadir bersimpuh. Doa penutup yang disampaikan oleh Bung Karno, lalu dilanjutkan doa oleh Para Nabi dan terakhir panjatan doa dari moyang manusia, Nabi Adam As menghadirkan Tuhan, Sang Khalik. Saat itu peserta pertemuan itu langsung sujud di lantai sambil berdoa dan derai air mata. Suasana sepi sesaat.

Inilah pertemuan yang penulis istilahkan dengan nama “Antara Parodi dan Realitas Makna Kehidupan Manusia.” Sebuah konsepsi yang berdimensi antara satu alam dengan alam lainnya. Mereka adalah generasi manusia yang berbeda zaman, alam, dan frekwensi hidup. Tetapi sore itu dapat bertemu dan saling tegur sapa serta bertukar cerita dan kesaktian. Ialah sebuah konsepsi alam quantum berdimensi bahwa alam ghaib memang ada dan berhubungan dengan dunia realitas.

Tak banyak yang dapat penulis ceritakan atas peristiwa itu, karena memang belum ada teori yang mampu mengurai soal fenomena alam ini. Apabila tidak cermat, maka tulisan akan menjadi sebuah ilusi dan halusinasi. Tetap akan menjadi lain, pemahaman realitas makna kehidupan manusia bila dipahami secara Ilahiyah (petunjuk Tuhan) dengan Aqliyah (pemikiran manusia) dipadu menjadi sebuah konsepsi dan teori tentang pemahaman serta pemaknaan baru konsepsi kehidupan dalam konteks kekinian. Bahwa kebenaran itu pasti akan datang. Ialah konsepsi Demi Massa. (catatan: bagi yang mengutip tulisan ini harus menyebutkan sumbernya, untuk menghindari denda sesuai dengan ketentuan undang-undang yang berlaku di negara Republik Indonesia). Salam.

20130524-011129.jpg

Oleh: safarians | 1 Mei 2013

Buku Tentang “Harta Amanah RI”

Pembaca Blog Yang Budiman,
Penulis sedang menyiapkan buku berjudul “Harta Amanah RI” yang tebalnya mencapai 500 halaman. Buku ini menampilkan tulisan-tulisan tentang harta amanah yang berkait erat dengan The Green Hilton Memorial Agreement yang terdapat dalam blog ini. Namun artikel-artikel tersebut penulis perbaharui dengan data-data dan hasil investigasi serta riset terbaru yang penulis lakukan. Termasuk komentar para pembaca yang akan penulis tampilkan apa adanya. Artinya, jika ada para pemberi komentar berkeberatan atas pemuatan komentarnya pada buku yang diterbitkan itu agar segera memberi tau penulis melalui email: safari_ans@yahoo.com. Sebaliknya, bila ada tambahan komentar Anda, silahkan tulis dalam komentar artikel yang Anda tanggapi.
Harapan penulis, semoga dengan terbitnya buku ini, setidaknya ada pijakan awal para peneliti sejarah dan riset ilmiah mengenai “sejarah bangsa besar yang hilang” tentang harta amanah yang telah menjadi buah bibir kebanyakan masyarakat Indonesia. Semoga.

20130501-020346.jpg

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 43 pengikut lainnya.